belajar startup marketing

Belajar Marketing Startup Dari EdithYeung Tentang Lean Marketing, @DolphinBrowser @RightVentures

Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures

JOIN OUR NEWSLETTER
Bergabung bersama 20,000 subscriber kami yang mendapatkan banyak ilmu gratis tentang bisnis online dan digital marketing
We hate spam. Your email address will not be sold or shared with anyone else.

 

Editor’s note : Akhir Agustus 2013, tim Dolphin browser mampir ke Indonesia dan memberikan sharing di event Lean Startup Circle Jakarta (organized by Farina, Claudia, Novita), yang memberikan presentasi tentang Dolphin adalah Edith Yeung, VP International Business Dolphin browser. Edith selain memiliki pengalaman panjang di industri mobile, juga merupakan founding partner dari Right Ventures. Dolphin browser adalah investasi pertama Sequoia Capital (salah satu top VC di US dan dunia) di industry mobile.

 

 

Sharing Edith Yeung “Lean Marketing” di Lean Startup Circle Meetup Jakarta

Hari ini saya akan membicarakan tentang actionable metrics, di mana Anda sebagai orang sibuk, harus punya specific goal, hal ini kadangkala bukan soal uang, tetapi karena waktu Anda sebagai founder berharga. Misalnya Anda punya 100 dollar dan akan melakukan Facebook marketing, biasanya 5% conversion rates, kamu akan dapat 5 leads, lalu apa yang akan kamu ingin mereka untuk lakukan ? ada suatu figure yang hilang, dan ini adalah art, yaitu call to action. Kamu meng-klik ads saya di FB lalu ngapain ? User mobile hanya memiliki waktu sepersekian detik apakah user mau engage dengan iklan kamu ? kalau mereka tidak mau, mereka akan hilang selamanya. Kadangkala waktu yang diperlukan untuk memikirkan tentang ini lebih banyak daripada mengeksekusinya.

Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures1

Ini adalah liputan majalah Wired Yong Zhi Yang founder Dolphin browser yang berasal dari China, sekarang kami punya kantor di Beijing dan Tokyo.

Ada cerita di mana founder Dolphin bisa masuk ke Wired. Biasanya kan di event populer ada jurnalis yang datang, kadang dari ratusan peserta ada satu jurnalis, memang sangat sulit menemukannya, dan jangan menjual cerita kamu kepada jurnalis, tugas mereka adalah menemukan cool story, untuk kami, story kami sendiri kami selalu menyampaikan apa adanya pada semua orang, secara konsisten, entah cool atau tidak.

Jika kamu startup baru, kamu harus menemukan siapa saja kompetitormu ? siapa saja partner kamu ? waktu awal-awal kami berdiri, yang ada di otak kami adalah bagaimana diliput Techcrunch ? tetapi Techcrunch tidak peduli, mereka hanya peduli pada kamu jika mereka sedang menulis tentang industri yang kamu masuki atau tentang kompetitormu yang sudah besar. Hanya jika saya kenal satu reporter bukan berarti saya bisa membantu kamu, kamu perlu tahu siapa saja influencer di industri kamu.

Satu hal dari aspek public relation, ada hal menarik yang baru saya tahu, ada beberapa media yang memiliki impact international, di mana jika kamu dapat coverage dari mereka, secara otomatis di translate ke banyak negara, jadi jika kamu ingin membangun global brand perlu identifikasi media yang memiliki karakter seperti ini.

Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures2 - digital marketing

 

Lean Twitter Marketing

Kogibbq adalah food truck yang lagi happening di LA, mereka food truck pertama di LA yang menggunakan Twitter untuk memberikan info menu special of the day dan mereka akan parkir di mana dan jam berapa.

Mereka memiliki ratusan ribu follower, tiap hari ada antrian setengah mill untuk beli Korean Taco yang mereka jual. Orang ini tidak punya uang banyak, tetapi yang mereka lakukan sangat unik, bahkan customernya pesan lewat Twitter dan mereka muncul secara fisik untuk mengambil pesanannya.

Banyak yang memfollow mereka karena penasaran apa menu special hari ini dan parkir di mana. Sekarang di SF banyak food truck bermunculan mengikuti KogiBBQ.

This is not even a startup, simple food truck yang menjual barang fisik tetapi mereka menjual menggunakan social media secara pintar. Barang yang dikonsumsi secara fisik seperti makanan mungkin cocok dengan strategi seperti ini, yang tentu saja tidak ada kaitannya dengan dana, tetapi tentang kreativitas.

Apakah Twitter cocok untuk target market kamu ? Bisa diriset dengan Quantcast.com – tidak tahu apakah ada tools yang mirip untuk market Indonesia – dengan Quantcast kamu bisa melihat karakter suatu market di breakdown usianya dan gender, juga country. Kadang kala Twitter tempat yang salah untuk ditarget apabila kamu mentarget usia 40-60, karena usia ini tidak menggunakan Twitter.

Hal-hal seperti ini kamu tidak akan mengerti jika tidak melakukan riset.

Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures3

Lean Social Media Campaign

Gambar di atas adalah promo simple kami saat melaunching Dolphin Browser di iPhone, kami menggunakan sedikit budget. Apabila kamu ingin orang memfollow kamu, me-like kamu di Facebook, kamu akan memberikan mereka suatu hadiah. Untuk iPhone launch kami melakukan email copy seperti ini

“We are celebrating iPhone launch, you can win a free iPhone, you have to tweet to win” partisipan harus men-tweet kata yang kami inginkan untuk bisa memenangkan hadiah. Harga iPhone cukup mahal jadi banyak orang mengikuti kontes ini, karena harganya yang mahal jadi kami hanya memberikan 2-3 hadiah saja. Yang perlu diingat adalah produk kamu harus relevan dengan hadiahnya, jika produk kamu tidak hadir di Iphone, rasanya aneh. Jika produk kamu adalah food-related, mungkin voucher dinner cocok, jika produk kamu adalah consulting, berikan voucher consulting.

Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures4

Untuk campaign ini kami mendapatkan 10,000 tweets dalam dua hari dan membantu menambah follower kami dengan cepat dalam waktu singkat.

Hal penting untuk campaign ini adalah kamu akan membutuhkan desainer grafis yang baik, karena apabila landing page kamu yang menjelaskan aturannya terlihat membingungkan, orang tidak akan menyukainya, juga call to action-nya, perhatikan tombol “Tweet To Enter” yang besar dan menonjol.

Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures5

Lean Event

Untuk event-event kami, kami punya taplak meja yang harganya murah, tetapi warna hijau bisa dilihat jelas dari jauh.

Tim kami juga selalu mengenakan baju hijau Dolphin, ide ini asalnya dari Guy Kawasaki, ia sangat menyukai company swag –  hal-hal kecil seperti stiker, baju, semua swag kami hijau, kami ingin orang-orang merasakan hal yang sama ke manapun kami pergi.

Untuk logo Dolphin browser kami juga melakukan trik untuk spreading the ideas, kami meng crowdsource logo kami di 99designs (di Indonesia : Sribu.com), di mana desainer yang berpartisipasi juga harus mempelajari value kami, jadi desainer community juga tahu tentang kami. Harganya juga murah dan kami mendapatkan sekitar 200 atau 300 entries. Setiap sekali selama 2 atau 3 tahun brand kadang melakukannya untuk me-refresh brandnya. Dengan biaya tidak mahal kamu bisa me re-use logo-logo ini sampai 2 tahun ke depan.

 

Belajar Marketing Startup dari @EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures6

 

Lean Sticker Campaign

Ada teman saya founder Jess3.com melakukan kampanye stiker di New York, LA, bahkan di acara Geeks on A Plane tahun lalu di Israel, Jerusalem teman saya menempelkan stiker di sekeliling kota.

Menempelkan stiker kan sangat murah ? Kalau saya punya waktu saya ingin berkeliling di Jakarta dan menempelkan stiker ini. Orang akan melihat stiker ini di mana-mana dan penasaran ini apa ? dan akan memotretnya karena penasaran.

belajar marketing startup - Sharing-@EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures7

Lean Partner Marketing

Awalnya user base kami pasti tidak banyak, kami melihat para developer di startup community secara umum saling mendukung satu sama lain, selalu penting untuk mengidentifikasi siapa partner potensial kamu ?

Awalnya ketika kami memulai tidak ada yang berbicara dengan kami dan tidak ada yang tahu siapa kami “who the hell are you ?”

Sebagai founder kamu akan banyak bicara dengan banyak orang, small guys (startup kecil), big guys (perusahaan besar), untuk small guys tentu lebih mudah melakukannya, untuk big guys membutuhkan waktu lama.

Pada akhirnya partnership yang sukses seharusnya product driven yang memberikan value bagi user masing-masing pihak.

Misalnya kamu food review sites, bagus jika kamu bisa melakukan partnership dengan restaurant booking system.

Saya pergi ke suatu kota di US yang sulit mencari taksi, untungnya hotel tempat saya menginap bekerja sama dengan Uber, startup taxi booking.

Belajar marketing startup @EdithYeung-Tentang-Lean-Marketing-@DolphinBrowser-@RightVentures8

Jadi pola pikirnya adalah bagaimana kamu bisa membuat partnership dalam rantai makanan / food chain dari customer, baik itu vertical atau horizontal yang memberikan value bagi customer.

Dalam kasus kami, banyak user evernote, apabila mereka ingin melakukan search dan browse, mereka ingin cepat menggunakan fungsi browser di evernote, jadi kami mendekati mereka untuk menawarkan integrasi. Engadget bersedia menulis partnership ini karena memberikan value bagi banyak orang.

Partnership seperti ini sangat bagus karena sifatnya product driven.

Sharing Edith Yeung Tentang Sequoia Capital, Browser Business, Right Venture 

“At the end of the day, people trump everything else”

Dolphin dimulai sekitar 3 tahun lalu ketika founder dan beberapa temannya sangat kecewa dengan experience yang mereka dapatkan ketika menggunakan browser di android, mereka adalah geek engineer yang  tidak mencoba untuk membangun sebuah perusahaan besar, mereka tidak mencoba untuk mendapatkan funding, tujuan mereka membuat Dolphin adalah membangun browser yang digunakan untuk diri sendiri.

Kami memilih nama Dolphin karena lumba-lumba adalah hewan yang sangat pintar, cepat dan lincah.

Saat ini kami mendapatkan sekitar 200 email per hari dari user kami yang menyampaikan opini dan saran dari user. Tetapi ketika perusahaan ini dimulai, hanya memiliki 5 sampai 7 orang yang saling mengenal sejak kuliah, saya sendiri bergabung 1,5 tahun setelah berdiri, saat saya bergabung, perusahaan ini terus tumbuh dengan kecepatan luar biasa, karena kami memecahkan masalah yang nyata.

Terkait lean marketing, tetapi kamu perlu tahu bahwa marketing jenis apapun tidak akan berjalan apabila produkmu sucks. No marketing can help you if you don’t solve a real problem.

Di slide saya kamu bisa melihat bahwa “marketing is everything”, tetapi sebenarnya “marketing is not everything”  …. “product is everything” jika kamu punya produk bagus, marketingnya bisa jalan dengan sendirinya dan orang-orang akan menemukanmu

Kenapa kami mendapatkan funding dari Sequioa ? “Sequoia actually found us and looking for us” karena kurang lebih sama dengan proses funding event lainnya yang terjadi lainnya, Dolphin bisa dibilang early karena saat Dolphin dibuat hanya ada 3000 app di Android, sekarang sudah 600,000 app di Android, 3 tahun lalu tidak mudah membangun app, tetapi sekarang sudah lebih mudah, misalnya dengan phonegap.com sekarang sudah bisa memvalidasi ide kamu.

Kami memulai sangat early dan mendapatkan jutaan download dalam 6 bulan, traction kami besar, sehingga Sequoia merasa tidak ada android developer yang bisa melakukan hal yang sama seperti kami.

Pada saat itu kami mendapatkan banyak tawaran dari berbagai venture capital, ada beberapa nama lain dengan nama besar, tetapi saya tidak bisa menyebutkan namanya karena kadangkala nama-nama ini saling bersaing, tetapi kami memutuskan memilih Sequoia.

Sequoia memiliki kantor di berbagai negara seperti India, China, Brazil, Israel, jika kamu melakukan ekspansi ke berbagai negara ini, keberadaan Sequioa sebagai investor kami akan sangat membantu, tetapi Sequoia tidak memiliki kantor di Jepang, jadi kalau kamu ingin ekspansi ke Jepang, akan bagus jika kamu memiliki investor dari Jepang. Pada saat VC mulai menawarkan untuk berinvestasi kepada kami, kami memiliki keinginan masuk ke emerging market jadi memutuskan untuk bergabung dengan Sequoia.

Jadi ada sedikit “push and pull” mereka memilih kami karena kami memiliki traction besar, sedangkan kami memilih Sequoia karena mereka partner strategic kami di emerging market, di Mumbai India, mereka memiliki dedicated team di Banglore dan Mumbai, di China mereka memiliki tim di Beijing.

Lesson learned after fundraising

Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui setelah melakukan raise fund, ketika kamu mendapatkan funding semua orang merasakan hal yang sama karena begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk raise fund, setelah raise fund juga banyak sekali pekerjaan. Trends dan hal-hal kecil yang ada di sekitarmu juga mempengaruhi proses dan prioritas funding, contohnya di Silicon Valley, sekarang ada banyak sekali startup yang related dengan Google Glass – wearable technology – hardware. Trends make a difference.

Biasanya ketika sebuah startup pertama kali mendapatkan funding, pertama kali yang mereka miliki adalah tim yang solid dan kuat dalam hal product, berikutnya founder harus spend budgetnya di marketing, tetapi biasanya founder startup teknologi adalah orang yang kuat di product tetapi tidak experience di marketing. Jadi ketika startup akan menggunakan budget di marketing, kemungkinan ia akan melakukan spending dengan tidak benar.

Lesson learned yang telah kami lewati adalah, lebih baik startup meluangkan waktu untuk ngobrol dan meminta saran kepada sesama founder daripada meluangkan waktu dengan misalnya, “konsultan”, karena sesama founder atau orang-orang yang berada di komunitas yang sama, karena mereka telah melewati hal yang sama dengan kamu, mereka memahami satu sama lain dan kamu bisa belajar dari pengalamannya supaya bisa menggunakan dana dengan bijak. Just because you have money doesn’t mean you know how to spend it.

Lesson learned berikutnya, just because their (VC) money is in your pocket, doesn’t mean you’re in their heart and their mind. Karena VC menempatkan dananya di banyak portofolio. Supaya investor kamu benar-benar care dengan kamu, kamu harus berkomunikasi dengan baik dengan investor kamu. Ada kalanya saya menempatkan dana yang sedikit di suatu startup tetapi saya sangat care dengan mereka. Ada 1 startup yang saya advice, Striking.ly, saya sangat menyukai mereka karena foundernya sangat passionate, kami bertemu satu sama lain sebelum mereka punya uang sama sekali, saya melihat mereka tumbuh sebagai company, kami juga banyak meluangkan waktu bersama, jadi saya sangat memahami pros and cons dari keputusan yang dibuat.

The more experienced you are, we get lazy, saya juga mengalaminya, startup tidak terlalu bagus dalam memberikan update pada investornya. Hal yang menarik dari salah satu startup yang saya invest, Fleksy, semacam virtual keyboard, mereka baru saja raise fund Series A dari Kleiner Perkins, Costa dan Ioannis setiap bulan memberikan update pada kami, ini highlight progressnya, ini yang kami butuhkan, saya sebagai investor merasa part of the journey. Banyak entrepreneur yang sangat berpengalaman tidak melakukannya, kami di Dolphin melakukannya quarterly, tetapi tidak setiap bulan.

Mengalami hal seperti ini, saya menyadari bahwa komunikasi-komunikasi kecil bisa membuat perbedaan besar, kamu sebagai startup bukan hanya mengkapitalisasi financial capital dari investor tetapi juga social capitalnya, untuk mendapatkannya kamu harus berkomunikasi dan berbicara.

Browser business

Bisnis browser sangat menarik untuk saya, sebelum saya bergabung dengan Dolphin, saya sama sekali tidak tahu bagaimana Mozilla atau Opera makes money. Opera saat ini sudah go public dan mereka mempublish bagaimana mereka menghasilkan uang.

Cara nomor 1 bagaimana browser menghasilkan uang adalah search. Mereka bekerjasama dengan berbagai macam search engine di banyak negara, jika sudah punya banyak traffic, Anda bisa melakukan advertising revenue share.

Cara yang baru adalah enterprise (B2B), banyak perusahaan besar ingin supaya browser yang digunakan karyawannya secure. Jadi kami sudah memiliki enterprise version dari Dolphin dengan tingkat keamanan lebih tinggi, versi ini tidak bisa kamu temukan di App store.

Cara ketiga, yang ingin saya explore di Indonesia, lebih content driven dan bukan hanya untuk search. Jika kita lihat behavior pengguna mobile, mereka tidak banyak melakukan search, tetapi mereka sudah tahu apa yang dibutuhkan. Jika saya ingin makan, saya langsung buka Yelp (kalau di US), kalau mau beli mobil saya buka Tokobagus, saya mau buka forum atau jokes saya buka Kaskus, saya tidak akan buka Google untuk search, jadi sekarang lebih ke content driven karena user sudah tahu apa yang mereka inginkan. Saya juga ingin meng-ekplorasi ecommerce atau gaming. Kenapa ecommerce ? karena kalau saya melihat gambar mobil yang saya buka dari browser Dolphin, saya ingin membelinya,  banyak website ecommerce sudah punya mobile site yang bagus, jika transaksi ini benar-benar terjadi menggunakan browser, maka kami harus berbicara dengan mereka. Tetapi hal ini agak berbeda dengan di US karena di US transaksi physical goods tidak terlalu happening di mobile, kalau digital goods seperti games, music banyak dilakukan.

Saya berbicara dengan beberapa ecommerce, mereka mengatakan bahwa mereka mengalami kenaikan luar biasa pada transaksi mobile dan angkanya sangat impressive dan menarik untuk diexplore.

Browser business is huge karena browser digunakan orang untuk connect ke internet. Dolphin sangat kuat di HTML5, Firefox membuat phone Firefox OS, tetapi kami percaya dengan HTML5 di mobile browser bisa berlaku seperti SAS (Software As Service) di laptop, dua puluh tahun lalu kita semua harus install software baru bisa berjalan di komputer, tetapi sekarang kita punya software seperti Sales Force yang bisa berjalan di cloud tanpa harus kita install, kenapa kita tidak bisa melakukannya di mobile browser ? saat ini mungkin di beberapa negara belum berjalan baik karena masalah kecepatan koneksi, tetapi ini hanya masalah waktu. Dolphin versi china kami memiliki banyak HTML5 web apps yang terlihat seperti apps tetapi berjalan di atas browser. Teknologi HTML5 tinggal menunggu waktu saja dan maturity of technology untuk browser bisa menjadi portal untuk games, ecommerce shopping, content dll.

Indonesia dan India adalah negara besar dengan pertumbuhan yang sangat tinggi, saat ini kami belum melakukan translate ke bahasa Indonesia tetapi kami sudah melihat pertumbuhannya, jadi kami sangat excited dengan rencana kami mengembangkan market di Indonesia.

Ada perbedaan dengan negara lain, misalnya di China dan Jepang operator handphone sangat kuat, saat kami bekerjasama dengan mereka, operator di China dan Jepang seringkali melakukan preload aplikasi dengan cepat, berbeda dengan Indonesia di mana untuk melakukan kerjasama dengan operator membutuhkan waktu sangat lama, sehingga untuk membangun kerjasama dengan telco, startup harus punya kemampuan memilih akan bekerja sama dengan yang mana, begitu sudah melakukan kerjasama, butuh waktu lama lagi untuk mengeksekusinya.

Bagaimana Membangun Kerjasama Dengan Telco Carrier / Corporate

Kami di Dolphin cukup beruntung karena investor kami sangat membantu dengan memberikan introduce kepada “orang yang benar”.

Dalam membangun hubungan dengan perusahaan lain (B2B) kita bisa saja berbicara, berkenalan dengan banyak orang tetapi tidak menghasilkan apapun, jadi “the right kind of introduction” adalah hal yang sangat penting.

Lalu bagaimana jika sebuah startup tidak memiliki investor ? kamu harus bisa menemui dan berkenalan dengan para decision maker di event-event dan harus mempelajari apa yang menjadi prioritas bagi telco di quarter atau periode tersebut.

Misalnya AT&T di Amerika 6 bulan lalu mereka sangat mempromosikan HTML5, mereka berpartner dengan phonegap dan beberapa accelerator untuk mendorong AT&T developer community menggunakan API phonegap, lalu mengadakan showcase. (http://architects.dzone.com/articles/devlab-training-att-apis-and)

Perusahaan besar seperti AT&T bisa dianalogikan sebagai kapal besar, sangat sulit bagi startup untuk mengubah arah dari sebuah kapal besar seperti titanic,, lebih baik untuk individual developer atau small startup memahami apa yang menjadi prioritas bagi telco ini dalam quarter ini. Jika relevan dengan kompetensi dari startup maka harus jump into the program. Jangan menawarkan kepada mereka hal-hal yang terlalu berbeda dengan program mereka, dan jangan terlalu short-sighted atau berpandangan jangka pendek karena umumnya perusahaan besar menginginkan relationship yang jangka panjang dan mereka ragu bekerja sama dengan perusahaan yang kecil karena perusahaan kecil umumnya melihat jangka pendek. Membangun hubungan dengan perusahaan besar memang menyita waktu, tetapi di saat bersamaan kita juga bisa membangun long term relationship. Hal yang terpenting adalah relationship dengan orang-orang para pengambil keputusannya. Hal-hal kecil yang kamu lakukan dalam relationship bisa menjadi hal besar di masa depan.

this-is-what

 

Right Ventures

Saya juga melakukan investasi di right ventures dengan fokus pada mobile.

Striking.ly membuat responsive website dengan sangat cepat.

Fleksy bisa dibilang “third party keyboard” yang membuat orang lebih mudah mengetik di touchscreen phone.

MightyText bisa mengirimkan SMS dari device manapun.

Pack sedikit perkecualian karena saya suka anjing.

Secara umum investasi saya fokus di mobile, sesuatu yang saya pahami.

belajar marketing startup

Di Right Ventures ada partner saya namanya Jonathan Siegel, investasi yang dilakukannya umumnya di cloud yang mendevelop platform as a services. Misalnya Amazon dikenal sebagai bisnis besar, sebuah backbone, banyak sekali service yang berjalan di atas Amazon, misalnya service transactional handling, transactional monitoring, yang sangat geeky, target marketnya adalah system administrator dari startup – bukan founder.

Spesialiasi saya di “customer facing startup” sedangkan Jonathan memiliki spesialisasi di sys admin startup, kami sangat memahami dua jenis audience ini dengan baik karena kami juga salah satu dari audience ini. Baru-baru ini saya baru belajar mobile gaming, sesuatu yang baru untuk saya, tetapi saya belum pernah mengerjakan mobile gaming sebelumnya, jadi saya harus belajar banyak dan bertanya banyak pada orang-orang di industri ini. Sedangkan cleantech, crowdfunding saya tidak memahaminya.

Saat ini portofolio kami hanya di US, semoga kami bisa segera memiliki portofolio di luar China, hal yang menarik di Silicon Valley adalah banyak sekali entrepreneur yang saya temui di sana, hampir 50% adalah imigran, lahir dan dibesarkan di luar Amerika, saya sendiri adalah imigran dari Hongkong, tetapi saya sekolah dan dibesarkan di US. Founder Fleky adalah imigran dari Yunani, founder MightyText adalah imigran India, founder Stringkly adalah imigran China. Environment di Silicon Valley membuat kita sering bertemu engineer imigran. Jika engineer dari Indonesia berjalan-jalan pakai kaos dan jeans di Palo Alto, sudah tidak ada bedanya dengan smart engineer lainnya.

Saya rasa culture geek di mana-mana sama saja di dunia, yang membedakan adalah mindsetnya, jika kalian ingin membangun perusahaan global maka kalian akan membuat pilihan yang benar untuk membuat hidup kalian lebih mudah, begitu juga investor tidak mau membuat hidup mereka lebih sulit saat mereka menempatkan dananya, itulah kenapa mereka kebanyakan menempatkan dananya di US karena semua perusahaan startup international pergi ke Silicon Valley, untuk apa mereka bekerja keras ? karena kami juga “lazy”.

Jika ada entrepreneur Indonesia datang ke saya bilang “saya butuh investasi, saya ingin mengembangkan market Indonesia”, jika terkait dengan Dolphin tentu saja bisa, karena cocok dengan bisnis saya, tetapi misalnya “saya ingin membuat startup yang bisa mengalahkan Kaskus” saya tidak memahami Kaskus bagaimana, kamu harus menjelaskan Kaskus dengan panjang pada saya, ditambah lagi saya tidak memiliki fungsi strategic bagi dia, bagi saya rasanya seperti menaruh dana di “ice cold water” saya tak tahu saya ada di mana dan tak tahu apa-apa.

Bagaimana kalau ada yang datang bilang “saya ingin mengalahkan Amazon di US dan di dunia” kamu harus menyampaikan kenapa kamu berpikir “Amazon is sucks” jika jawaban dari kamu make sense, kami bisa membantu, kenapa tidak ?

Clone dan Paten

Di China, Jepang, Rusia ada kloning dari Facebook, kloning dari Google, kloning dari Groupon, semua yang mereka lihat di US di copy, karena proven business model dari negara lain, purely localized dan cultural-fit, bahkan tidak bisa dibilang “market-fit” karena mereka membawanya dari negara lain, jadi basically “cultural fit” dari model yang sudah ada dan biasanya tidak technology based.

Portofolio saya yang saya sebutkan di atas kebanyakan terkait dengan paten, Fleksy misalnya memiliki paten,juga “technically heavy”, make money is good tapi ini hal yang lebih dari sekedar make money, technically heavy startup juga sulit di copy di China atau Jepang.

 

 

 

One Reply to “Belajar Marketing Startup Dari EdithYeung Tentang Lean Marketing, @DolphinBrowser @RightVentures”

  1. Pingback: Barrier To Entry Untuk Startup Yang Perlu Anda Ketahui | Belajar Bisnis Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *